Bidang Kompetensi


Berita



Track-It
01 Dec 2009 • Dibaca : 1197 x ,

Abdul Rachman, dkk

Track-it mulai dikembangkan pada tahun 2009 dalam penelitian Riset Insentif Kedirgantaraan yang didanai dari DIPA 2009. Versi pertama (1.0) dirancang untuk dapat menampilkan lintasan permukaan (ground-track) benda-benda yang telah dimasukkan data orbitnya (dalam format two-line element disingkat TLE). Rancangan dibuat khusus agar mudah memanfaatkan keluaran hasil prediksi waktu dan lokasi benda jatuh yang dipublikasikan oleh Space-track (www.space-track.org) yang dinamakan TIP report. Data TLE kemudian diproses dengan model SGP4 yang kodenya didapatkan dari Celestrak (www.celestrak.com) untuk mendapatkan lintang, bujur, dan ketinggian benda pada suatu waktu. Tampilan program secara umum mengikuti tampilan Orbitron (www.stoff.pl). Peta dunia diambil dari Orbitron sedang peta Indonesia dari www.indonesiamatters.com. Implementasi dilakukan memakai Delphi 6.0.

Dengan Track-it 1.0 kita dapat dengan cepat melihat perkiraan lokasi jatuh suatu benda berdasarkan prediksi Space-track. Sebagai contoh, lintasan bekas roket SL-4 R/B milik Rusia di sekitar waktu jatuhnya terlihat pada gambar berikut ini. Titik kuning pada gambar adalah perkiraan lokasi jatuh benda sedangkan titik-titik merah adalah lintasan permukaan benda dengan memperhitungkan kesalahan prediksi pada saat prediksi dilakukan (biasanya selang kesalahan untuk prediksi terakhir lebih kecil daripada ini) .

Track-it 1.0 memiliki banyak kekurangan. Yang paling menonjol adalah ketidakmampuannya untuk melakukan penjejakan (tracking) secara real time.

Pada tahun 2010 dilakukan pengembangan Track-it dalam penelitian Riset Insentif Diknas yang didanai dari DIPA 2010. Versi kali ini (dinamakan versi 2.0) bertujuan mampu melakukan pemantauan dan pelaporan hasilnya secara otomatis dan rutin di internet (sebisa mungkin real time). Sebagai masukan, Track-it 2.0 menggunakan dua file yakni file Space Situation Report (SSR) dan file catalog (versi three-line format) yang diunduh dari Space-track. File SSR berisi informasi tentang benda-benda yang ada dalam katalog USSPACECOM (yang sudah jatuh maupun yang masih mengorbit). File catalog (versi three-line format) berisi TLE (two-line element) terbaru benda-benda yang masih mengorbit (bukan hanya bumi) berikut nama bendanya. Space-track memperbarui file SSR sekali seminggu sedang file katalog dua kali sehari.

Agar mampu melakukan penjejakan secara real time terhadap benda-benda yang melewati Indonesia dengan ketinggian di sekitar ketinggian jatuh rata-rata, dilakukan perbaikan pada teknik perolehan data dan pengolahan data. Di samping itu dibuat pula prosedur pembuatan report secara otomatis.

Proses perolehan data memanfaatkan beberapa perangkat lunak yakni TLE Retriever, System Scheduler, dan WinRAR. TLE Retriever adalah sebuah program yang dapa dipakai untuk mengunduh file SSR dan file catalog. Program ini diunduh dari Celestrak. WinRAR adalah sebuah program untuk membuat, mengatur, dan mengontrol file terkompresi dalam format RAR dan ZIP. Program ini diunduh dari www.rarlab.com. System Scheduler adalah sebuah program untuk mengotomatisasi task yang kita buat pada sistem operasi (dalam hal ini MS Windows). Program ini diunduh dari www.splinterware.com. Proses perolehan data dimulai dari TLE Retriever yang mengunduh file SSR dan file catalog dalam format mentah (raw) yakni dalam format RAR dan ZIP. Selanjutnya WinRAR mengonversi kedua file tadi ke format TXT (format yang akan dibaca pada proses pengolahan data). Script berisi commands untuk proses perolehan dituliskan dalam tiga buah batch file yang dipanggil sejam sekali (secara berurutan) oleh System Scheduler.

Pengolahan data pada prinsipnya mencari dari seluruh benda dalam file catalog yang di sekitar waktu saat ini melintasi Indonesia dengan ketinggian di sekitar ketinggian rata-rata benda jatuh yakni 122 km. Untuk itu dilakukan propagasi orbit benda sejak sejam yang lalu hingga sejam ke depan memakai model SGP4. Jika benda melintasi Indonesia saat ketinggiannya di sekitar ketinggian benda jatuh maka benda tersebut dipilih dan lintasannya ditampilkan. Karena jumlah benda yang sangat banyak diduga akan membutuhkan waktu komputasi yang sangat lama ketika melakukan propagasi orbit maka terlebih dahulu dilakukan seleksi benda secara berurutan sebagai berikut:

File SSR digunakan untuk secara cepat memilih benda-benda yang masih mengorbit bumi (on orbit object) dan perigee-nya < 400 km (ini bisa dilakukan karena dalam file SSR tercantum teks decay bagi benda yang sudah jatuh dan tercantum pula perigee benda).

File catalog digunakan untuk memilih (lagi) hanya benda-benda yang usia TLE-nya < 2 hari (diperoleh dari selisih antara waktu saat ini dengan epoch TLE). Benda yang akan jatuh memerlukan updating TLE sesering mungkin. Oleh karena itu pembatasan usia TLE perlu dilakukan.

Setelah dua langkah di atas barulah dilakukan proses selanjutnya sebagai berikut:

1. Menyeleksi benda-benda yang melintasi Indonesia sejak 1 jam yang lalu hingga 1 jam ke depan dengan ketinggian saat melintas kurang dari 200 km tapi di atas 90 km. Definisikan wilayah Indonesia dengan batas lintang -11 hingga 6 derajat, batas bujur 95 hingga 141 derajat. Lakukan langkah ini setiap ½ menit.

2. Memplot lintasan permukaan benda-benda hasil seleksi setiap detik secara real time. Ada 3 skenario:

- Jika benda akan melintasi Indonesia maka lintasan diplot sejak saat ini hingga 1 jam ke depan.

- Jika benda sebelumnya melintasi Indonesia maka lintasan diplot sejak 1 jam yang lalu hingga saat ini.

- Selain kondisi di atas benda sedang melintasi Indonesia maka lintasan diplot sejak ½ jam yang lalu hingga ½ jam ke depan.

Beberapa warna dipakai untuk menunjukkan kelas ketinggian benda. Lintasan berwarna hijau jika 150 <= ketinggian < 200 km, kuning jika 122 <= ketinggian < 150, merah jika 90 <= ketinggian < 122, dan hitam jika ketinggian < 90 km (bisa dianggap benda sudah jatuh). Suatu lintasan memungkinkan terdiri dari beberapa warna berdasarkan ketinggian benda saat itu.

3. Menyimpan gambar lintasan pada peta dunia dan pada peta Indonesia.

Report dibuat dalam format html berisi lintasan benda pada peta dan teks dan tabel tentang rekapitulasi kejadian saat itu. Report dibuat setiap 5 detik.

Gambar berikut merangkum keseluruhan proses otomatisasi di atas.

Implementasi dilakukan dengan Delphi 2010. Untuk masing-masing benda yang terpilih, bersama lintasan ditampilkan juga ketinggian benda dan ukuran benda (RCS). Posisi benda saat ini ditunjukkan oleh titik berwarna merah. Selain peta dunia terdapat pilihan untuk melakukan zoom-in ke peta Indonesia. Sebagai contoh, berikut ini lintasan dua buah bekas roket yang pernah melintasi Indonesia dengan ketinggian antara 150 hingga 200 km pada suatu waktu sejak pukul 18:12:47 hingga 20:12:47 WIB tanggal 5 Jan 2011. Ketinggian kedua benda tersebut saat ini (19:12:47 WIB) adalah 4068 km dan 1132 km. Potensi jatuh di wilayah Indonesia belum dapat diperkirakan karena kedua benda masih cukup tinggi (warna lintasan hijau).

Sumber : http://orbit.bdg.lapan.go.id/index.php/tentang/track-it/75-bagaimana-track-it-dibuat








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815



© 2017 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL