Bidang Kompetensi


Berita



KOMISI VII DPR RI KUNJUNGI LAPAN BANDUNG
Penulis Berita : • Fotografer : • 15 Dec 2020 • Dibaca : 748 x ,

Riset dan inovasi bidang sains antariksa dan atmosfer 2020-2024 sebagai penggerak sektor pembangunan nasional, menurut Deputi Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer, Halimurrahman, pada kunjungan kerja rombongan Komisi VII DPR RI ke BATAN dan LAPAN Bandung, adalah Sistem Pengambil Keputusan/Decision Support System (DSS), Pengembangan Perangkat Pendukung Keputusan/Decision Support Tool (DST), Infrastruktur Iptek strategis, dan teknologi untuk pencegahan dan mitigasi pascabencana.

Halimurrahman mewakili Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengungkapkan DSS meliputi penginderaan jauh untuk kawasan konservasi, pencegahan pencemaran, kebencanaan, dan pemanfaatan sumber daya alam hal ini sebagai sistem pendukung keputusan para pengambil kebijakan. Sedangkan pengembangan DST adalah berbasis Sains dan Teknologi Atmosfer untuk mendukung Smart Water Management System (SWMS). Infrastruktur yang dikembangkan bidang sains antariksa dan atmosfer saat ini adalah Observatorium Nasional (Obsnas) di NTT serta Laboratorium Terbang Nasional dan teknologi untuk pencegahan dan mitigasi pascabencana yaitu informasi cuaca antariksa serta benda jatuh antariksa, tegas Halimurrahman dalam paparannya di Kantor Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Senin (14/12).

 

Selanjutnya rombongan Komisi VII DPR RI mengunjungi LAPAN Bandung dan disambut Kepala LAPAN beserta jajaran pimpinan Pusat Sains Antariksa (Pussainsa) dan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA). Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin menyampaikan gambaran umum tentang cuaca antariksa, benda jatuh antariksa, progress pembangunan Observatorium Nasional di Kupang, pengembangan teknologi pengamatan atmosfer, sains dan pemodelan atmosfer serta pemanfaatannya. Dipandu oleh Koordinator Bidang Diseminasi Pussainsa dan Kepala PSTA, rombongan melaksanakan tinjauan lapangan ke media center SPICA (Sistem Pemantauan Informasi dan Cuaca Antariksa), media center Atmospheric Science and Technology Information System (ASTINA) dan Data Center Indraprasta atau Informasi di Graha Pranata Sains dan Teknologi Atmosfer PSTA.

Dalam wawancara sebelum kunjungan ke media center, Ketua Tim Kunjungan Komisi DPR RI, Eddy Suparno menyampaikan bahwa “kegiatan kunjungan ke LAPAN Bandung ini dalam rangka mengetahui kinerja LAPAN secara keseluruhan karena bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di antariksa misalkan tentang badai matahari dan dampaknya bagi kehidupan, kemudian benda antariksa yang jatuh, bagaimana penanganan dan ganti ruginya jika itu benda antariksa asing, “ucapnya.

 

Di media center SPICA, Emanuel Sungging sebagai Koordinator Bidang Diseminasi Pussainsa menjelaskan tentang bagaimana pemantauan cuaca antariksa secara umum dan pemantauan benda jatuh antariksa serta pengembangannya. Anggota DPR RI begitu semangat dan mendorong agar hasil penelitian SWIFtS (Space Weather Information and Forecast Services) dan pengembangannya agar semakin dirasakan manfaatnya, baik oleh pengguna maupun masyarakat luas.

Dyah Roro Esti, salah satu anggota Komisi VII yang diwawancarai oleh Tim Humas juga turut mendukung pembangunan Observatorium Nasional (Obsnas) di Kupang, NTT. “Harapan besarnya Obsnas menjadi pusat penelitian untuk mengetahui dan mempelajari keantariksaan, dapat meningkatkan tourism pariwisata untuk berkunjung ke sana, meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia maupun dunia yang berkunjung ke sana. Ini juga sebuah upaya untuk dapat memajukan bangsa dan harapan besarnya kita tidak kalah lagi dengan observatory di negara lainnya karena Observatorium Nasional ini merupakan yang terbesar nantinya di Asia Tenggara. Mudah-mudahan bisa lancar dan semakin sukses, “ungkapnya.

 

Kepala PSTA-LAPAN, Didi Satiadi yang memandu rombongan di media center ASTINA, mengatakan bahwa ASTINA sebagai sarana sistem informasi layanan atmosfer, dikembangkan dengan basis data satelit dan pengamatan terresterial terintegrasi serta pengetahuan sains atmosfer dengan memanfaatkan teknologi informasi terkini. Menurut Didi Satiadi, LAPAN sebagai lembaga litbang mendukung upaya pemerintah melalui kementerian/lembaga terkait melalui kegiatan penelitian dan pengembangan yang disebut Decission Support System (DSS). Salah satu produk DSS tersebut, ungkapnya, adalah Sattelite-based Disaster Early Warning System atau biasa disebut SADEWA dan sistem pemantauan hujan spasial atau yang disebut SANTANU. SADEWA dan SANTANU merupakan produk litbang PSTA-LAPAN yang dikembangkan untuk mendukung peringatan dini dan pengelolaan resiko bencana hidrometeorologis oleh otoritas terkait, tegasnya.

Selanjutnya rombongan meninjau Data Center Indraprasta atau Informasi di Graha Pranata Sains dan Teknologi Atmosfer yang ada di PSTA-LAPAN. "Sadewa didukung oleh sistem pengamatan berbasis satelit serta sistem prediksi berbasis model Weather Research and Forecasting (WRF) dan High Performance Computing (HPC), di PSTA, HPC ini disebut sebagai Komputasi Prediksi Numerik Atmosfer (KRESNA)” tutur Didi Satiadi.

Kebutuhan PSTA akan HPC untuk berbagai keperluan termasuk desain atmosfer dan prediksi atmosfer, tambah Didi Satiadi, PSTA sangat membutuhkan sekali HPC yang besar, saat ini di PSTA-LAPAN tersedia 3.500 cores, hal ini untuk bisa meningkatkan resolusi dan juga akurasi model-model di PSTA, pungkasnya kepada rombongan Komisi VII DPR RI.

Diakhir kegiatan kunjungan, Kepala LAPAN menyerahkan cenderamata berupa plakat kepada perwakilan Komisi VII DPR RI.


Humas LAPAN Bandung : Christine/Muhtar/Sucipto
Foto : Ferdhie/Gelar








Related Posts
No Related posts

Kontak kami :
LAPAN
Jl. Pemuda Persil No.1 Jakarta 13220 Telepon (021) 4892802 Fax. 4892815



© 2021 - LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL